Tentang Seorang Mualaf

Sesaat setelah mualaf itu membaca dua kalimat syahadat, suasana haru memenuhi seisi masjid. Orang-orang di sekeliling mualaf tersebut memeluk dengan erat. Seolah mengatakan: 'Selamat datang, saudara seiman kami'

Sebenarnya, aku sudah sedikit lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saat itu, di Masjid Pogung Dalangan. Aku, bersama seorang temanku-yang semoga Allah menjaganya, mengikuti kajian yang diisi oleh Ustadz Abduh Tuasikal hafizhahullah. Setelah kajian selesai, ada sebuah peristiwa yang masih kuingat hingga sekarang. Untuk pertama kalinya, aku melihat seorang nonmuslim mengucapkan dua kalimat syahadat. Seorang non muslim, aku lupa, entah itu berasal dari agama apa, dengan hidayah taufik dari Allah, memeluk islam.

Aku dan temanku menyaksikan dari layar televisi yang ada di lantai dua. Sesaat setelah mualaf itu membaca dua kalimat syahadat, suasana haru memenuhi seisi masjid. Orang-orang di sekeliling mualaf tersebut memeluk dengan erat. Seolah mengatakan: 'Selamat datang, saudara seiman kami.' Kulihat kanan dan kiri, beberapa jamaah menitikkan air mata. Terharu dan bahagia, itu juga yang kurasakan.

Hal ini membuatku berfikir bahwa bagaimanapun, kebenaran adalah kebenaran. Agama Islam, agama Rasul, agama sejak zaman Nabi Adam, intinya sama. Tauhid, mengesakan Allah. 

Orang yang masih memiliki hati yang bersih, biidznillah, dengan taufik dari Allah, dapat menerima kebenaran agama Islam. Dan hidayah taufik, hidayah untuk dapat menerima kebenaran, hanya milik Allah. Untuk bisa menerima kebenaran, seseorang membutuhkan hidayah dari Allah. Itu juga yang kita minta minimal 17 kali dalam sehari, dalam surat Al Fatihah, ihdinas shiratal mustaqim. "tunjukilah kami jalan yang lurus."

---
Frisa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidayah

Maaf

Kamu, punya kesempatan